Diselenggarakan Oleh :
logo

Artikel & Berita


img

22 Agustus 2020

SHARKULATOR – HITUNG BERAPA EKOR HIU YANG KAMU SELAMATKAN!

Berdasarkan riset yang berbasis ilmiah, Shakulator dapat menjadi tools yang dapat menjadi dasar pertimbangan guna meyakinkan publik untuk tidak mengonsumsi sup sirip hiu, karena pada dasarnya kebanyakan konsumen tidak mengetahui asal-usul dan keterlacakan (traceability) produk hiu yang dikonsumsinya. Hiu dan pari dengan produktivitas lebih tinggi, dan populasinya yang tidak terancam punah dapat ditangkap secara berkelanjutan. WWF Sharkulator merupakan inisiasi WWF Global (sharks.panda.org) sebagai aplikasi web kalkulator terbaru untuk menghitung berapa banyak hiu yang bisa diselamatkan ketika orang memilih untuk tidak mengonsumsi sup sirip hiu dengan memasukkan sejumlah mangkuk sup sirip hiu yang mereka rencanakan untuk tidak di konsumsi. Selengkapnya.


img

17 Mei 2020

Pandemi Corona Paksa Pemburuan Hiu Berhenti

Pandemi Corona yang muncul sejak akhir tahun 2019, menyentak aktivitas penangkapan hiu yang berlangsung di Indonesia sejak dulu. Aktivitas penangkapan hiu di Pulau Ambo, satu tempat pendaratan hiu terbesar berhenti sejak awal April 2020. Rantai pasok hiu rontok karena Corona mewabah seluruh dunia. Dari hilir hingga konsumen. Di Tiongkok, tempat awal mula kemunculan virus ini merupakan negara tujuan terbesar ekspor produk hiu. Ada peluang konservasi dengan adanya dampak pandemi ini. WWF Indonesia bilang, ini menjadi momen penting buat mengevaluasi kebijakan dari aktivitas dagang hiu di Indonesia seperti ketelusuran produk. Tapi pandangan WCS Indonesia beda, pandemi ini justru berpeluang meningkatnya bycacth terhadap hiu. Selengkapnya.


img

5 maret 2021

Konservasi Hiu dan Pari Butuh Data Memadai

Pelestarian hiu dan pari di Indonesia masih terganjal soal pendataan. Pasalnya, hingga kini, data komprehensif mengenai perikanan dua spesies itu belum memadai. Untuk memastikan perikanan hiu dan pari dilakukan secara berkelanjutan, dibutuhkan data pendaratan ikan yang komprehensif. Peningkatan kapasitas diharapkan dapat mendukung upaya penegakkan hukum perlindungan spesies, regulasi perdagangan, memastikan pemanfaatan yang legal dan berkelanjutan, pemenuhan terhadap konvensi internasional serta kepatuhan terhadap peraturan nasional. Selengkapnya.


img

14 Juli 2020

SHARKS AWARENESS DAY 2020: Ajak Anak Muda Lestarikan Hiu dan Pari

Bertepatan dengan Shark Awareness Day pada tanggal 14 Juli 2020, WWF-Indonesia menyelenggarakan diskusi daring #SharksonTuesDay bertajuk “Anak Muda Urus Hiu: Cerita Hiu dari Hulu ke Hilir”. Diskusi ini diikuti oleh lebih dari 250 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari pemerintah, swasta, komunitas, maupun pelajar dari berbagai kota di Indonesia. Sebagaimana judulnya, diskusi kali ini menghadirkan anak-anak muda Indonesia yang berkontribusi dalam upaya pelestarian hiu sebagai narasumber di antaranya adalah Demas Derian Siahaan dari Konservasi Keanekaragaman Hayati Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, dan Andhika P. Prasetyo dari Pusat Riset Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. Diskusi ini juga dipandu oleh Ranny R. Yuneni, Sharks and Rays Conservation Specialist WWF-Indonesia. Ranny sendiri adalah perempuan muda yang telah melakukan beberapa riset yang menunjukkan bagaimana kondisi terkini hiu dan pari di Indonesia, serta menampilkan program-program yang tengah diusung guna mendukung kegiatan konservasi hiu di Indonesia. Selengkapnya.


img

2 September 2020

Kurang dari Dua Bulan, Empat Hiu Paus Terdampar di Jember

Sekitar dua bulan terakhir ini, ada empat ekor hiu paus terdampar di Pantai Nyamplong Kobong dan Pantai Paseban di Kabupaten Jember, Jawa Timur, yang berjarak sekitar 11 kilometer Peristiwa terakhir terjadi pada Minggu (30/8/2020) di Pantai Paseban, seekor paus berukuran panjang 10 meter dan berbobot dua ton yang mati terdampar. Hiu dengan motif tutul ini akhirnya langsung dikubur tanpa nekropsi Peristiwa sebelumnya terjadi pada 4-5 Juli, ada tiga individu hiu paus terdampar di Pantai Nyamplung Kobong, Desa Kepanjen, Kecamatan Gumuk Mas, Jember. Dua di antaranya berhasil diselamatkan, namun satu ekor sudah dalam kondisi mati dengan terpotong-potong. Puluhan sampai ratusan megafauna terdampar di Indonesia tiap tahun di perairan Indonesia yang memiliki setidaknya 33 spesies cetacea (paus dan lumba-lumba) atau lebih dari sepertiga jumlah spesies di seluruh dunia. Namun penanganannya selalu menjadi tantangan tersendiri, seperti keterbatasan SDM, peralatan dan lokasi terdampar yang sulit terjangkau. Bahkan tak sedikit satwa yang masih diambil dagingnya oleh warga. Selengkapnya.


img

28 September 2020

Setengah Juta Hiu Mungkin Dibunuh dalam Pengembangan Vaksin Covid-19

Para ahli satwa liar memperingatkan bahwa sekitar setengah juta hiu kemungkinan dibunuh dalam upaya pembuatan vaksin Covid-19. Hiu dibunuh untuk diambil squalene, minyak alami yang diproduksi pada hati hiu, di mana ini digunakan sebagai obat, termasuk obat flu saat ini. Squalene digunakan sebagai adjuvan untuk meningkatkan efektivitas vaksin dengan menciptakan respons imun yang lebih kuat. Beberapa pengembangan kandidat vaksin Covid-19 pun menggunakan bahan ini. Jika salah satu dari vaksin digunakan di seluruh dunia, kelompok konservasionis Shark Allies mengungkapkan, sekitar 250.000 hiu disembelih untuk memberikan satu dosis bagi setiap orang. Ini akan berlaku kelipatannya atau sekitar 500.000 hiu dibunuh, jika dua dosis diperlukan untuk mengimunisasi populasi. Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Setengah Juta Hiu Mungkin Dibunuh dalam Pengembangan Vaksin Covid-19", Selengkapnya.


img

4 November 2020

Hiu Terancam, NTB Siap Melakukan Pengelolaan

Hiu merupakan ikan yang tergolong dalam ikan bertulang rawan atau elasmobranchia. Berbeda dengan ikan pada umumnya, ikan hiu memiliki pertumbuhan yang sangat lambat dan melakukan reproduksi yang sangat sedikit. Umumnya ikan hiu melakukan reproduksi setahun sekali dengan jumlah anak kurang lebih 55 ekor. Hal inilah yang dapat membuat ikan hiu rentan keberadaannya apabila dilakukan penangkapan secara tidak terkontrol. Kabupaten Lombok Timur merupakan salah satu penghasil perikanan hiu terbesar di Indonesia bagian timur. Berdasarkan data yang didapatkan, hiu yang didaratkan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tanjung Luar mencapai 6.000 – 8.000 ekor pertahun dengan nilai perputaran uangnya mencapai Rp 5,6 miliar per tahun. Oleh karena itu banyak stigma negatif tentang perikanan hiu di Kabupaten Lombok Timur. Perikanan hiu di Lombok Timur merupakan permasalahan kompleks yang harus diselesaikan berbagai pihak secara bersinergi. Selengkapnya.


img

21 Desember 2019

Saatnya Atur Kuota Tangkap Hiu

Evron Asrial, Rektor Universitas 45 Mataram menyatakan, Kementerian Kelautan dan Perikanan sudah saatnya mengeluarkan regulasi kuota penangkapan hiu dan pari di perairan Indonesia. Beberapa program pemerintah dan organisasi non pemerintah yang mendampingi nelayan pemburu hiu juga sudah lama memberikan edukasi. Kalau pemberlakuan kuota itu berlaku, tak akan terlalu timbul gejolak. Pemerintah harus memikirkan nasib para nelayan dan buruh yang bekerja pada rantai bisnis hiu kalau ada kuota tangkap. Pembatasan jumlah penangkapan berarti pengurangan penghasilan. Satu contoh di Nusa Tenggara Barat, potensi pariwisata di Keruak dan Jerowaru, bisa jadi alternatif bagi para nelayan penangkap hiu. Meskipun begitu perlu pelatihan panjang, karena beralih dari penangkap hiu ke sektor jasa wisata perlu keahlian berbeda. Selengkapnya.


img

18 September 2019

Tunjukkan Model Pengelolaan Hiu Paus, Indonesia Gelar CTI TSWG Meeting di Gorontalo

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Ditjen PRL) menjadi tuan rumah pelaksanaan pertemuan tahunan ke-3 Threatened Species Working Group (TSWG) di Gorontalo yang berlangsung 17-18 September 2019. Pertemuan TSWG ini berada di bawah kerja sama regional Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries and Food Security (CTI-CFF) yang akan dihadiri oleh perwakilan dari 6 (enam) Negara anggota, yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Timor Leste, dan Kepulauan Solomon. Sebelumnya, pertemuan tahunan pertama dan kedua dilaksanakan di Filipina dan Malaysia. Gorontalo dipilih sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan karena dipandang telah menjalankan prinsip pengelolaan ekowisata Hiu Paus (Rhincodon typus) secara berkelanjutan, seperti yang ada di Desa Botubarani, Kabupaten Bone Bolango. Hal ini tercermin dari penerapan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan sebagaimana diatur dalam Pedoman Wisata Hiu Paus yang disusun Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut Ditjen PRL tahun 2016. Dengan demikian, diharapkan dapat memberikan pembelajaran model pengelolaan Hiu Paus di negara-negara wilayah segitiga karang (coral triangle). Selengkapnya.


img

13 Desember 2018

Kenapa Belum Semua Jenis Hiu Dilindungi?

Penetapan status perlindungan ikan hiu harus dilakukan secara bijaksana dan berdasarkan prinsip kehati – hatian, karena menyangkut sosial dan ekonomi sebagian masyarakat, khususnya masyarakat nelayan yang menjadikan ikan hiu sebagai tangkapan utama (Tanjung Luar-NTB) dan konsumsi lokal (Aceh, Toraja) karena murah dagingnya. Kehati – hatian itu berarti kekayaan alam Indonesia seperti ikan hiu dan pari boleh kita manfaatkan secara optimal untuk kesejahteraan masyarakatnya, namun dengan tetap menjaga kelestariannya sehingga ikan hiu itu dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Selengkapnya.


img

29 Maret 2018

Simposium Nasional Hiu dan Pari di Indonesia Ke-2: Menuju Pengelolaan Hiu dan Pari Berkelanjutan

Eksploitasi hiu dan pari di Indonesia secara berlebih akan menyebabkan terjadinya penurunan populasi kedua spesies tersebut. Pemerintah dan masyarakat seyogyanya menyadari, perlu dibutuhkan waktu lama untuk memulihkan keberadaannya kembali. Terlebih, spesies yang ditangkap, telah masuk dalam daftar Apendiks II Convention on International Trade of Endangered species (Konvensi Perdagangan Spesies Terancam Punah).
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengenang sebuah kisah pada masa kecilnya. Ia mengatakan bahwa keberadaan pari manta dan whale shark merupakan sebuah tanda bahwa terdapat banyak ikan di lautan. Namun keberadaan pari manta dan whale shark, mulai langka ketika sebelumnya kapal-kapal asing diizinkan masuk ke perairan Indonesia. Selengkapnya.


img

21 Maret 2016

Prosiding Simposium Hiu dan Pari Indonesia ke-1

Simposium Hiu dan Pari Indonesia yang diselenggarakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan WWF-Indonesia pada bulan Juni 2015 lalu, telah diikuti oleh lebih dari 50 peneliti dari seluruh Indonesia. Para peneliti tersebut memberikan kontribusi dengan mempublikasikan hasil penelitian mereka mengenai hiu dan pari di Indonesia. Setelah melewati beberapa tahap tinjauan sejak hasil penelitiannya dipresentasikan, hasil rumusan simposium berupa dokumen prosiding telah diterbitkan oleh KKP dan WWF-Indonesia pada pertengahan bulan Maret 2016. Prosiding tersebut dapat diunduh di sini .