Diselenggarakan Oleh :
logo logo logo logo

Pre Simposium Workshop

Workshop Validasi Model Habitat Mobulidae di Indonesia: Perspektif Spasial Ekologi untuk Pengelolaan dan Konservasi

 

Ancaman populasi utama dari mobulidae adalah perdagangan satwa liar yang meningkat beberapa dekade terakhir ini. Kalangan pemerhati konservasi Internasional dikejutkan oleh penurunan populasi global yang signifikan dari mobulidae dikarenakan terus meningkatnya permintaan pasar terhadap insang dan bagian tubuh lainnya dari jenis ikan ini. Sementara, permintaan yang tinggi ini tidak sejalan dengan sifat biologisnya yang cenderung lambat dalam pertumbuh, kematangan seksual, masa hidup yang panjang, lamanya masa gestasi, tingkat reproduksi yang rendah, serta rendahnya kematian alami. Merespon kekhawatiran ini, The Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) telah memasukan kelompok mobulidae dalam appendix II dalam rangka untuk mengkonservasi kelompok spesies ini dari kepunahan.

Sementara itu Indonesia sebagai salah satu penghasil perikanan mobulidae terbesar di Dunia telah meningkatkan perhatiannya untuk konservasi mobulidae di Indonesia dengan membuat suaka perlindungan untuk kedua pari manta (Mobula birostris dan Mobula alfredi), dimana suaka perlindungan ini digadang-gadang menjadi suaka perlindungan terbesar di Dunia. Hingga saat ini studi habitat dan pola pergerakan dari kelompok spesies ini masihlah sangat terbatas dan berfokus pada wilayah tertentu saja. Program Nasional satelitte tagging yang dilakukan telah sukses memberikan gambarakan ekologi dari pari manta dibeberapa lokasi seperti Raja Ampat dan Komodo dengan menyediakan informasi terkait penggunaan habitat, pola pergerakan dan distribusinya. Namun, program ini sangatlah mahal dan tidak dapat digunakan untuk memahami ketersediaan habitat lainnya ketika spesies yang dilacak  tidak bergerak ke lokasi tertentu. Mengkombinasikan data pergerakan, kemunculan, dan historical catch kedalam metode ecological niches modeling (ENM) atau species distribution modeling (SDM) sangatlah bermanfaat dalam memahami ketersedian habitat yang lebih luas dan akurat yang dapat dijadikan sebuah estimasi distribusi dari spesies tertentu serta interaksinya dengan lingkungan laut. Menggunakan kovariat oseanografi seperti yang dilakukan pada studi merupakan metode yang sangat sederhana dan alat yang murah dalam mengidentifikasi ketersediaan habitat yang akurat, dimana model habitat ini dapat digunakan selanjutnya oleh menejer dan ilmuan untuk rencana pengelolaan dan arahan penelitian.

Pemodelan habitat telah digunakan beberapa dekade terakhir untuk mengatasi biogeografi spesies secara luas dan memprediksi ketersediaan habitatnya dalam ruang dan waktu. Sederhananya, metode yang digunakan dalam studi ini akan dihitung secara statistik dengan mengkombinasikan kemunculan spesies yang diketahui (presence-only) dan kovariate oseanografi, dimana model nantinya akan memprediksi suatu wilayah yang dikenal oleh model memiliki kesamaan lingkunan dengan karakteristik lingkungan dimana spesies telah diketahui distribusinya. Metode ini telah digunakan secara luas dalam membantu diberbagai bidang ekologi, biogeografi, evolusi, perubahan iklim, hingga baru-baru ini digunakan dalam konservasi bilogi.

 

Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Hari/Tanggal : Selasa, 27 Maret 2018

Waktu            : 08.00 – 12.00

Tempat          : Gedung GMB 4 – KKP Jakarta

 

Pertanyaan dan jawaban selama sesi diskusi pada lokakarya mobulid

1. Apa tantangan terbesar dalam mengelola perikanan dan bycatch di Indonesia?

•    Kurangnya informasi, data yang akurat, terutama perikanan skala kecil (data tangkapan);
•    Pemerintah hanya fokus pada penangkapan dan pelabuhan nelayan/pendaratan. Sementara pada perikanan skala kecil ketersediaan data sangat minim;
•    Kebutuhan untuk mengatasi permintaan untuk produk-produk pari mobulids. Sangat sedikit studi global tentang mengapa orang mengkonsumsi daging ikan hiu dan ikan pari. Saat ini  studi  konsumen ada di negara-negara kunci SE Asia (yaitu dari WildAid);
•    Perlu menemukan cara untuk mengubah perilaku untuk mengurangi permintaan;
•    Permintaan lokal; Masih tingginya permintaan untuk konsumsi lokal karena harganya yang murah;
•    Ada banyak nelayan di Indonesia yang mengandalkan perikanan sebagai mata pencaharian utama. Setiap area memiliki situasi unik yang perlu ditangani secara berbeda.

2. Apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi resiko kematian mobulid pada perikanan?

•    Meningkatkan sumber daya untuk melaksanakan proyek konservasi berbasis masyarakat secara nasional;
•    Studi mitigasi Bycatch;
•    Peraturan untuk membatasi penggunaan jaring insang hanyut (gillnet) di Indonesia;
•    Pelarangan ukuran jaring insang ukuran lebih dari 10 inci, di Malaysia ini mengurangi jumlah pendaratannya
•    Meningkatnya studi pergerakan pari mobulids secara horizontal dan vertical untuk memahami habitat kunci;
•    Penegakan hukum;
•    Kawasan Konservasi Perairan yang efektif berfokus pada habitat mobulid yang penting.

3. Apa saja penelitian lainnya yang diperlukan untuk mendukung konservasi pari mobulid di Indonesia?

•    Studi pola migrasi dan pergerakan untuk menginformasikan pengelolaan perikanan secara spasial dan temporal (beberapa spesies pari mobulids sudah dilakukan dalam skala nasional);
•    Pemberdayaan masyarakat;
•    Sensitivitas visual dari pari mobulids;
•    Memahami ekonomi perikanan pari mobulid;
•    Penelitian genetika untuk melihat konektivitas populasi;
•    Habitat utama Mobulid (seperti nursery ground, dan lainnya)
•    Data tangkapan / pendaratan tingkat spesies yang jangka panjang
•    Sosial ekonomi

4. Peningkatan kapasitas/pelatihan khusus seperti apa yang diperlukan untuk memajukan konservasi pari mobulid?

•    Lebih banyak peralatan laboratorium dan genetika berteknologi tinggi di Indonesia (karena sulit mengambil sampel di luar Indonesia)
•    Pengamat di kapal nelayan (observer) untuk mengumpulkan data yang akurat
•    Mengadopsi pedoman internasional yang Manta Trust (dan LSM lain) sudah miliki, dan mempromosikan kepada pemerintah untuk memanfaatkan
•    Standarisasi SOP Nasional untuk pencatatan hasil tangkapan

5. Ancaman apa lagi yang dihadapi oleh pari mobulid di Indonesia yang perlu ditangani?

•    Pencemaran laut
•    Perusakan habitat (karena pariwisata, polusi, perikanan)
•    Pertumbuhan pariwisata

6. Apakah ada area prioritas yang harus difokuskan untuk melindungi pari mobulid, seperti habitat yang signifikan, ancaman kritis atau nilai pariwisata yang potensial?

•    Informasi dari BPSPL, banyak pendaratan di Jawa Timur (Pigi).

7. Bagaimana menurut anda bila mengadakan pertemuan rutin untuk berbagi, merencanakan, dan mengoordinasikan upaya untuk penelitian dan konservasi yang bersifat masal? Apakah anda tertarik untuk mengembangkan kelompok peneliti dan praktisi konservasi pari mobulid di Asia Tenggara?

•    Banyak minat dalam pertemuan reguler Indonesia dan Asia Tenggara

8. Apakah semua orang senang untuk berbagi email/kontak dengan peserta lainnya untuk berbagi informasi dan upaya koordinasi?

•    Semua orang senang