Diselenggarakan Oleh :
logo logo logo logo


Kapan

28 – 29 Maret 2018

Dimana

Gedung Mina Bahari 4 - Kementrian Kelautan dan Perikanan

Simposium Nasional Hiu dan Pari di Indonesia Ke-2:

Menuju Pengelolaan Hiu dan Pari Secara Berkelanjutan Berbasis Ilmiah

Karakteristik biologi ikan hiu dan pari (elasmobranchii) antara lain adalah mempunyai fekunditas relatif rendah, usia matang seksual lama dan pertumbuhannya yang lambat.  Dengan mempertimbangkan kepentingan pemanfaatan oleh masyarakat maka pendekatan pengelolaan yang lestari merupakan pilihan yang direkomendasikan, dengan melakukan upaya konservasi dalam rangka menjaga kelestarian sumber daya sehingga dapat memberikan manfaat secara berkesinambungan. Rencana Aksi Nasional atau National Plan of Action (NPOA) sangat penting sebagai pedoman dasar dalam pengelolaan hiu dan pari di Indonesia. Untuk mendukung rencana tersebut, perlu adanya payung hukum yang dapat dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan. Evaluasi terhadap pelaksanaan setiap langkah pengelolaan perlu dilakukan secara berkala dan transparan. Kesadaran dan kemauan bersama dapat menyelamatkan sumber daya hiu dan pari yang terancam punah, serta komitmen dari semua pihak melalui sistem penganggaran dan program keberlanjutan sehingga pengelolaan hiu dan pari di Indonesia dapat berjalan baik. Indonesia telah mengembangkan Rencana Aksi Nasional (RAN) atau National Plan of Action (NPOA) hiu dan pari sejak tahun 2010. Dalam NPOA pertamanya dalam kurun waktu lima tahun (2010-2015) Indonesia telah membuktikan keseriusannya, dimana telah menghasilkan beberapa kebijakan dalam rangka pengelolaan hiu dan pari seperti penetapan perlindungan penuh Hiu Paus (2013) dan Pari Manta (2014) Dalam periode keduanya, pada  tahun 2016-2020 dengan merumuskan sembilan strategi utama yang dibuat berdasarkan hasil evaluasi periode sebelumnya. Selanjutnya NPOA tersebut disusun juga untuk menunjukan konsistensi Indonesia dalam komitmennya pada dunia Internasional untuk pengelolaan hiu dan pari. 

Kelompok  ikan bertulang rawan ini telah menjadi isu internasional sejak tahun 2013, setelah masuknya beberapa species hiu dan pari manta dalam apendiks II CITES. Hal ini berkaitan dengan tingginya tingkat eksploitasi terhadap berbagai jenis hiu dan pari, baik sebagai tangkapan target maupun tangkapan sampingan (bycatch). Eksploitasi hiu di Indonesia pada umumnya dilakukan di daerah-daerah potensial pelepasan anakan hiu (nursery ground), yaitu di kawasan terumbu karang, di perairan pantai yang dangkal, atau wilayah estuari di mana perairan tersebut merupakan tempat mencari makan (feeding ground). Hal ini dapat menyebabkan terjadinya penurunan populasi hiu dan pari  secara cepat dan memerlukan waktu lama  untuk pulih kembali.

Tantangan yang klasik dalam sebuah pengelolaan spesies adalah masih terbatasnya informasi ilmiah terkait sumber dayanya yang menjadikan penyebab sulitnya melakukan upaya konservasi serta pengelolaan untuk lebih maksimal. Ditambah lagi masih belum populernya penelitian hiu dan pari di kalangan peneliti di Indonesia menjadikannya sala satu tantangan besar dalam mengisi gap dari ketersediaan data. Simposium hiu dan pari pertama ditahun 2015 telah memberikan rekomendasi kebijakan yang bermanfaat hingga saat ini melalui policy brief yang telah dihasilkan  seperti 1) pembentukan POKJA hiu dan pari yang salah satu tugasnya melakukan pendataan jenis hiu dan pari bernilai penting, serta memfasilitasi peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam sistem pengumpulan data; 2) memperkuat sistem ketelusuran (traceability) produk hiu dan pari, serta pengembangan panduan praktik terbaik dalam mendorong pengembangan ekowisata hiu dan pari sebagai alternatif pemanfaatan kedua satwa tersebut; dan 3) Mendorong adanya perlindungan habitat penting. Rencana penyelenggarakan forum ilmiah kembali di tahun 2018 ini selain bertujuan untuk mengumpulkan hasil-hasil penelitian tentang sumber daya hiu dan pari  terbaru yang dilakukan di Indonesia, namun diharapkan juga menjawab kebutuhan-kebutuhan pengelolaan hiu terutama yang telah terancam punah didalam IUCN ataupun menjadi perhatian ditingkat internasional seperti CITES dan RFMO.



Key Dates

16 Januari 2018 - 16 Februari 2018

Waktu Pengiriman Abstrak


Nasib Sang Predator Lautan


Hiu merupakan salah satu makhluk laut yang ramai diperbincangkan publik terkait populasinya. Data CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna/Konvensi Perdagangan Internasional terhadap Satwa dan Tumbuhan yang Terancam Punah) mencatat pada tahun 2010, 180 jenis predator lautan ini dinyatakan terancam dibandingkan dengan tahun 1996 hanya 15 spesies, sehingga banyak gerakan menyelamatkan populasi hiu muncul dari berbagai kalangan. #SOSharks (Save Our Sharks) merupakan salah satu kampanye yang digalang oleh WWF-Indonesia untuk menghentikan konsumsi, perdagangan hingga penayangan kuliner hiu oleh media.

#XPDCMBD: Sambutan Hangat Pari Manta di Perairan Moa


One, two, three, go!” Itulah kata-kata yang kami lontarkan sebelum turun ke laut bersama-sama untuk mengambil data ekologi kesehatan karang dan identifikasi ikan. Hari ini (6/11), hamparan laut biru Pulau Moa menyambut hangat kedatangan kami. Sinar matahari terang menembus hingga ke dasar laut. Misteri sejuta terumbu karang siap untuk diungkap. Khusus penyelaman di titik kesepuluh survei cepat ini, selain menjadi roll master, saya juga akan mendokumentasikan lewat foto kehidupan bawah laut Maluku Barat Daya dan kegiatan pengambilan data yang dilakukan oleh Tim Ekologi.

Perjuangan Menyelamatkan Hiu Tikus


Saya pertama kali melihat hiu tikus (thresher Shark) pada tahun 2003, 30 meter kedalaman laut Visayan, di saat malam berganti siang, tulis Andy Cornish, WWF Global Shark Leader. Satu jam sebelumnya, saya dan istri berada di atas perahu cadik bersama beberapa penyelam di Pulau Malapascua, Filipina tengah. Kami berlayar ditemani bintang-bintang menuju Monad Shoal. Kawasan terumbu karang yang luas ini dikenal sebagai satu-satunya tempat di dunia di mana kita dapat melihat hiu thresher tanpa harus menyelam terlalu dalam.

Hiu: Kawan atau Lawan


Di benak kita selama ini, hiu selalu diproyeksikan sebagai sesuatu yang berbau horor dan teror. Sejak jaman dahulu kala, hiu sudah dianggap sebagai spesies yang istimewa. Mitos tentang hiu sudah menonjol dalam mitologi Hawaii. Pada saat itu, hiu disebut Aumakua atau penguasa samudera. Mitos hiu sebagai pemakan manusia dan pembunuh yang agresif juga ternyata masih melekat di mata masyarakat hingga kini dan menjadi stigma yang membelenggu. Hingga saat ini ada sekitar 440 jenis hiu yang diketahui yang dapat ditemukan di semua lautan di dunia, dan sebagian kecil dapat ditemukan di estuari dan sungai.





Simposium akan dimulai pada:

Hubungi Kami